Tampilkan postingan dengan label CyberWorld Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CyberWorld Info. Tampilkan semua postingan

hati hati dengan modus baru hacker membobol data

Sabtu, 08 Februari 2014

Merdeka.com - Baru-baru ini fenomena hacker kerap menghebohkan pemberitaan. Ulah mereka dengan membobol data dari sebuah akun pribadi hingga perusahaan sudah sangat meresahkan. Bahkan belakangan ini, diketahui ada modus baru pembobolan data yang dilakukan oleh para hacker tak bertanggung jawab.

Perusahaan atau korporasi diingatkan untuk mengantisipasi modus-modus baru pembobolan data via Internet, seperti memanfaatkan lemahnya keamanan akun individu karyawan untuk menemukan data-data rahasia perusahaan.

"Jalan masuk attack (serangan) data mobile bukan hanya kepada situs perusahaan tapi individu. Saat orang itu beraktivitas, misalnya ketika dia masuk tempat santai, dia bisa terkena serangan, dan secara tidak sengaja dia membawa serangan itu ke ke kantor," kata konsultan pra penjualan Trend Micro, Fransiskus Indromojo, seperti yang dikutip dari Antara (20/1).

Dia mengatakan, lemahnya penjagaan keamanan Internet pada akun karyawan dikhawatirkan menjadi "jembatan akses" bagi para pembobol data untuk meraup keuntungan finansial yang berlimpah dari perusahaan itu.

Menurut Fransiskus, jika pada tahun-tahun sebelumnya, pembobol data banyak bertujuan sekedar mencari eksistensi, kini para "bad guys" itu juga mengincar keuntungan finansial.

"Maka itu, 'mindset'-nya harus diubah. Kita harus berpikir bahwa semuanya tidak aman baik perusahaan maupun individu, untuk meningkatkan penjagaan. Perusahaan juga harus meningkatkan kualitas program keamanannya," ujar dia.

Selain itu, sumber daya keamanan daya internet baik teknologi maupun tenaga ahli di Indonesia harus ditingkatkan baik dari kualitas maupun kuantitas, kata dia.

Dhany Sulistyo, Direktur Penjualan Trend Micro, perusahaan perangkat lunak keamanan data di Internet, mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang cukup rawan dengan kejahatan dunia maya, termasuk pembobolan data.

Namun, kata Dhany, masyarakat Indonesia pada umumnya sudah menyadari betapa pentingnya keamanan data Internet pada dewasa ini.

Yang menjadi salah satu poin pembenahan, kata dia, adalah proses evaluasi sistem keamanan data Internet baik yang digunakan individu maupun korporasi.

"Perusahaan di Indonesia sudah 'aware' (sadar) dengan keamanan. Sudah mulai dipisahkan mana divisi IT dan kemanan di perusahaan-perusahaan. Namun juga perlu diperhatikan mengenai evaluasi program keamanan mereka dan sumber daya," ujar dia.

Trend Micro akan meluncurkan seri video '2020: The Series' tentang kejahatan dunia maya, dan juga gambaran mengenai dampak teknologi terhadap kehidupan bermasyarakat di masa depan.

Seri video ini juga merupakan hasil kerja sama dengan Aliansi Internasional untuk Perlindungan Keamanan Dunia Maya (ICSPA).

Tak ada yang tak bisa dibobol hacker

Merdeka.com - Segala cara dilakukan Snapchat agar layanannya tidak dijahili hacker lagi. Namun, ternyata upaya terbaru mereka masih belum mampu menangkal kejahatan para peretas tersebut.

Seperti yang dilansir oleh Mashable (23/1), para hacker dilaporkan telah berhasil membobol sistem keamanan Snapchat yang menangkal pencurian data pengguna. Namun, ternyata ketangguhan sistem tersebut tidak bertahan lama karena hacker telah berhasil mengacak-acaknya.

Seperti dilaporkan dalam sebuah blog milik Steven Hickson, dijelaskan bahwa para hacker telah berhasil mengakali sistem keamanan mirip Captcha tersebut. Para hacker pun masih bisa mencuri data dari aplikasi sexting paling terkenal tersebut.

"Dengan upaya kecil, kode buatan saya mampu mendeteksi kunci keamanan dengan akurasi 100 persen. Saya tak bilang kode ini telah sempurna, masih jauh dari kata itu. Yang saya katakan, dibutuhkan waktu sangat sedikit untuk dapat membobol sistem keamanan itu," tulisnya.
Seperti diketahui, Snapchat menambahkan fitur tebak hantu mirip Captcha untuk membedakan pengakses manusia atau robot. Fitur ini disediakan setelah data pelanggan sebanyak 4,6 juta dilaporkan telah tercuri hacker.

Dengan teknik ini, era hacker diklaim akan berakhir

Merdeka.com - Salah satu ancaman di era teknologi dan internet saat ini adalah serangan hacker. Namun, sebentar lagi sepertinya semua itu dapat teratasi dan era hacker pun akan meredup.

Kelompok ilmuwan komputer telah menghabiskan waktu mereka selama bertahun-tahun untuk dapat membuat satu cara agar sistem mereka kebal terhadap serangan peretas. Dan, akhirnya mereka mengklaim berhasil.

Dengan menggunakan sebuah teknik baru yang dinamakan "Obfuscating," Professor Amit Sahai dan para rekan-rekannya, menjelaskan bahwa mereka dapat melakukan aktivitas normal tanpa takut akan serangan hacker karena teknik itu dapat mengacaukan dan mengelabui para peretas.

Teknik Obfuscating, seperti dikutip dari Daily Mail (04/02), menggabungkan berbagai elemen dalam satu software pengkodingan yang mana hanya orang yang menjalankan program ini saja yang dapat mengaksesnya, sementara orang lain hanya akan menemukan elemen-elemen membingungkan saja.

Memang saat ini teknik satu ini belum sepenuhnya sempurna, namun akan diupayakan dapat berhasil 100 persen dalam jangka waktu dekat ini.

Secara garis besar, Obfuscating beroperasi dengan menghasilkan kode-kode khusus yang sangat rumit untuk diatur dan dianalisis oleh orang lain.

Merunut dari arti kata Obfuscating sendiri yang berarti berawan, maka teknik satu ini sangat membingungkan dan ambigu, sehingga orang yang tidak masuk dalam daftar pembicaraan akan kesulitan menerka apa yang sedang dibicarakan.

Para peneliti menggunakan teknik ini karena terinpirasi dari teknik sejenis yang pernah ada di tahun 1970-an silam. Walaupun Sahai mengatakan bahwa apa yang mereka kembangkan belum maksimal, namun sejauh ini, Obfuscating sudah diuji coba dan sangat efisien untuk menangkal serangan hacker.

Sahai berharap apabila nantinya Obfuscating dapat berhasil, maka dapat diterapkan dan dipakai oleh pihak militer sampai dengan pebisnis.
[das]
 
Visit merdeka.com